Showing posts with label The Unforgettable Memories. Show all posts
Showing posts with label The Unforgettable Memories. Show all posts

Friday, 14 August 2015

The Story : 2012, My Revival Year (Part 1)

Bismillahirrahmanirrahim


Ini adalah ceritaku tahun lalu dimana salah satu tahun yg benar-benar melelahkan dan penuh perjuangan, 2012.

Sebelumnya aku mau cerita dulu bagaimana awal dari kebangkitan di masa SMA, transisi dari pelajar malas menjadi pelajar yang lebih disiplin :))

3 bulan terakhir 2011..

Seperti kehilangan semangat. Loyo. Malas belajar. Tiga hal itu cukup untuk menggambarkan aku saat itu. Belajar hanya sesekali, waktu lebih banyak terbuang untuk bermain games, internetan, galau masalah anak muda, dll. Jadi ingat dulu November malam-malam selalu begadang hanya untuk bermain GTA di kompi.. #janganditiru

Dan akhirnya..

Suatu pagi di sekolah, hari itu merupakan hari pembagian rapot. Temen-temen udah pada kumpul di gazebo sekolah. Kami berbincang biasa, ada juga yg membantu wali kelas, mengoordinir ortu murid yang datang. Saat itu kelas kami sedang diperbaiki, sehingga tempat berpindah ke MultiMedia. Prediksiku, salah satu diantara kami yg telah dua kali juara kelas di kelas X nya yg akan menjadi pemenang.
Anak-anak kembali ke MM. Deg-degan.

"Gimana-gimana?"
"Eh hasilnya ya apa?"
"Kamu juara berapa?"

Akhirnya salah satu teman keluar, membawa secarik kertas yang kemudian kuketahui berisi daftar top 10 di kelas. Kami sekelas berebutan melihat, mencari tahu siapa saja yang hasil kerja kerasnya terbayar hari itu.

Satu persatu kulihat nama itu. Dan..

Gagal.

Kulihat satu persatu teman-teman beserta ortu mereka pulang. Ada yang bersuka cita, ada pula yang muram.
Prediksi awalku benar. Namun daftar itu.. benar-benar menyesakkan. Dulu di kelas X aku selalu mendapat posisi 10 besar. Tapi apa yang kini terjadi?

Failed. Kata-kata itu sudah sering kudapati saat bermain games, media, dll. Namun saat itu rasanya BEDA. Iya, beda.

Saat pulang, di mobil aku hanya terdiam saat mama melontarkan kata-kata pedasnya. "Makanya jangan bermain terus, kamu itu pelajar. Nggak seharusnya kamu bermain terus, begadang, lupa waktu.."
Air mata itu tak mampu kubendung, kulihat daftar nilai di rapot satu persatu. Tak seberapa bagus memang.
Seandainya aku punya waktu untuk berubah, kegagalan ini.. Ah, pedih rasanya.

Sesampainya di rumah, tak kuasa aku menahan kesedihan itu. Air mata terus mengalir mengenang semua yang telah kulakukan selama satu semester. Jika saja aku tahu akan seperti ini rasanya. Penyesalan selalu datang terlambat.

Bersama dengan salah satu teman akrabku yang gagal meraih peringkat atas, setidaknya dia masih jauh lebih baik secara peringkat, kami saling menguatkan satu sama lain lewat SMS. Meratapi kegagalan kami hari itu. Sejak saat itu, aku sadar akan semua kesalahanku, dan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama sekaligus membuktikan kemampuan diri sebenarnya.

Babak baru dimulai.

Akhir 2011, aku memutuskan untuk mengikuti ekstra Pramuka secara rutin. Saat itu ada uji kemampuan Bantara, semacam tingkatan untuk Pramuka tingkat Penegak (SMA). Aku mencoba ikut, menyisihkan sebagian dari waktu untuk mengasah hard skill & soft skill bersama teman-teman seekstra. Dan waktu itu aku masuk di grup Pendobrak :D Setelah melalui perjalanan panjang dengan berjalan kaki sepanjang 15-an km dan menuntaskan poin-poin tes dan acara akhirnya kami resmi dilantik menjadi anggota Bantara Pramuka Penegak tepat di hari terakhir 2011 :)

Pulang sehabis tes :)


Januari 2012

Setelah buku-buku pelajaran didapatkan, aku mencoba mengubah pola belajar. Setelah pulang sekolah, sore, me-review materi yang diberikan guru sebelumnya. Malamnya, mempelajari materi yang akan dibahas besoknya. Aku masih ingat, saat itu sedang bangkit-bangkitnya semangat buat belajar matematika, bab suku banyak. Mencoba mencari jawaban dengan cara Horner, konvensional, dll. Bahkan sampai membeli buku soal matematika karena kekurangan soal. Setiap hari aku berusaha keras belajar, memahami isinya, tidur tepat waktu. Aku tak mau seperti keledai, jatuh di lubang yang sama.

Sedikit-demi sedikit usaha membuahkan hasil. Nilai UH matematika dua bab, suku banyak serta fungsi komposisi & invers berhasil kutuntaskan dengan nilai sempurna. Di PKN, yang gurunya terkenal dengan cara mengajarnya yang khas, aku mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari beliau. Namun masih ada yang lebih bagus dari prestasi di sekolah : Olimpiade.



Let's Begin the Adventure : Olimpiade Sains 2012

Saat itu bulan Maret minggu kedua. Saat itu, Jum'at pagi seperti biasa pelajaran PKN sedang berlangsung. Sekitar jam setengah delapan, aku pamit untuk mengikuti seleksi tingkat sekolah mewakili SMAN 1 Krian di tingkat kabupaten di bidang Biologi. Beberapa hari sebelumnya, bermodalkan semangat, pengalaman, dan modal buku-buku aku mencoba mengikuti seleksi lagi setelah tahun 2011 gagal. Dan alhamdulillah, masuk 5 besar, yang nantinya diseleksi menjadi 3 orang, untuk mengikuti Olimpiade Sains tingkat kabupaten nantinya.

Waktu hanya ada dua minggu, dalam waktu sesingkat itu aku harus mempelajari keseluruhan materi biologi yang diujikan, yang sebagian besar merupakan materi kelas 12 dan kuliah *_^ Dengan metode seperti biasanya di 2012 + belajar dadakan di bus saat pulang, jadwal kuatur dan materi kupersiapkan sebaik-baiknya.

Hari-H. Tak ada perasaan apapun sebelum lomba ini berlangsung. Seperti biasa, saat sebelum ujian dimulai, aku berdoa seperti biasa. Pesaing kali ini mencapai 75 anak mewakili SMA-SMA nya masing-masing se-kabupaten. Banyak banget..


Satu bulan kemudian..

Awal Mei 2012. Saat pelajaran Seni Budaya, guruku mengatakan beliau ikut melihat hasilnya. Ada dua anak dari sekolah kami yang masuk peringkat teratas. Tiba-tiba jantung deg-degan gak karuan. Esoknya..
"Selamat, Man! Kamu masuk peringkat 2 se-Sidoarjo!" kata guru Fisika ku. Peringkat 1 diraih oleh Hanum, teman satu sekolahku.

Alhamdulillahirabbilalamin. Akhirnya kerja keras itu terbayar juga.

Jadilah aku harus membagi waktuku kembali antara belajar untuk materi UAS dan Olimpiade. Kali ini perhatianku benar-benar terpecah, selain soal lebih sulit, waktu masih kurang mencukupi untuk memahami semua materi. Sampai-sampai sempat berselisih dengan teman sekelompok Biologi untuk bab Reproduksi karena aku dikira terlalu fokus belajar untuk persiapan seleksi provinsi..

Di tingkat provinsi ini aku berkenalan dengan banyak teman-teman se-kabupaten, dan sampai sekarang masih berhubungan lewat sosmed. Ada Kharis (kimia) dari SMAN 1 Sidoarjo, Hardiyanto (kimia), Silvia (fisika), Marthen (biologi), ketiganya dari SMA Kr. Petra 4. Cecil (matematika) dari SMA PGRI 1, Meylin (matematika) dari SMA Untung Suropati. Mereka baik serta cerdas tentunya. Malam sebelum tes di hotel, kami banyak bercerita, melepas kejenuhan belajar. Satu orang yang tak pernah kulupakan adalah Pak Aunurohim, pembimbing dari ITS jurusan Biologi yang membimbing Hanum, aku, dan Marthen. Petuah dan ilmu beliau benar-benar masih teringat sampai sekarang :)

sehabis tes dan bersiap pulang
berdiri, dari kiri : Meylin, Cecil, Silvia.
duduk, dari kiri : Marthen, Hardi, aku.

saat pemberian piala dan sertifikat di pendopo Dinas Pendidikan



Juli 2012

Menjelang kenaikan kelas 12, aku mencoba mengikuti beberapa lomba. Diantaranya lomba LCC Bela Negara yang diadakan Kodim Sidoarjo dan lomba Pramuka se-Kwarcab Sidoarjo di bidang mading 2D. Dan lagi-lagi, alhamdulillah, masing-masing berhasil menyabet peringkat 1 dan 3. Namun, akhirnya aku harus menemukan kenyataan pahit : gagal masuk tingkat Nasional yang akan diadakan di Jakarta September 2012~ Sedih? Iya. Bangga? Iya. Mau gimana pun juga ini pencapaian yang cukup luar biasa bagi seorang anak yang hampir pernah keluar peringkat 50% terbaik..


(to be continued) ..


Saturday, 15 December 2012

The First Winning Competition : English Week UNESA 2010


“Iman, kamu ikut tim Quiz Alliance mewakili SMANIKA yah..”

            Suara mbak Evin membuatku terkejut; diriku yang kemampuan bahasa Inggris yang terbatas akhirnya bisa mewakili sekolahku di lomba cerdas cermat Bahasa Inggris. “Alhamdulillah deh, akhirnya aku bisa ikut,” batinku. Anak-anak yang berniat mengikuti lomba ini diwajibkan membuat esai If I go to Australia, karena penyeleksiannya bareng dengan seleksi peserta OZ, itu loh lomba dari Jawa Pos yang berhadiah ke Aussie (tapi nggak nyambung karena lombanya lain)

            Menyisihkan dari sebagian anak-anak anggota EC (English Club) yang diketuai Miss Evin, begitu ku memanggilnya, memang agak sulit. Anak-anak yang berminat mengikuti berbagai perlombaan untuk ekstra ini harus melalui tahapan seleksi yang ketat. “Wis aku nyerah aja, Man,” kata Randy, salah satu temanku.

Well, aku sendiri pernah mengalaminya. Ketika audisi pemilihan peserta untuk lomba debat, para peminat harus melalui tahapan-tahapan yang sulit serta mendebarkan (tentu saja bikin capek). Jadwal sekolah yang teramat padatnya sampai tak bisa dicairkan, ditambah jadwal ekstra sangat menyita waktuku. Belum lagi jarak antara rumah dan sekolah yang jauuh banget, so pastinya badan bisa jadi 5L (lemah, letih, lesu, lunglai, lemas, kayak kurang darah aja).

            Dan akhirnya detik-detik terakhir pemilihan peserta Quiz Alliance alias cercem English ini membuat ku bersorak riang dalam hati. Bersama salah satu teman sekelas dan seorang teman lainnya kami siap bertarung dalam arena nanti. Pertarungan yang akan membuat kami sport jantung karena levelnya Jatim dan Bali

            Pertarungan adu kecerdasan bukan adu tinju-tinjuan loh.

            Dengan lengkapnya regu sekolah kami di kompetisi nanti, latihan pun digeber. Ada lima macam perlombaan yang akan diadakan di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Yang pertama debat, uji kecerdasan dalam mengeluarkan opini, tentunya dalam bahasa Inggris. Kemudian News Reading, kita berlagak menjadi warta berita yang setiap hari rutin nampang di layar kaca. Ada lagi Speech, lomba pidato seperti biasa. Terus Story Telling, bercerita mengenai dongeng atau legenda di depan audiens. Yang terakhir Quiz Alliance, lomba cerdas cermat English.

Justru di sini timku lah yang kelimpungan. Info lomba yang kurang lengkap plus kesan panitia yang menutup-nutupi format lomba membuat kami dan pembina pusing tujuh keliling. Bahkan pembina kami yang merupakan mahasiswa UNESA pun tak tahu menahu soal formatnya. Yang kami tahu hanyalah materinya, yaitu menyerupai ujian TOEFL, grammar plus pengetahuan umum.

Herannya, ketika regu lomba lain serius berlatih, kami sendiri kelimpungan mau latihan kayak gimana. Habis formatnya geje alias ga jelas sih. Tim kami, teman sekelasku anak X-8 Dito, anak X-2 Ryan, dan aku sendiri hanya garuk-garuk kepala melihat keseriusan regu lain utamanya tim debate.

            “Sst jangan diganggu mereka lagi konsentrasi..”
           
Kami hanya membahas soal-soal grammar aja, itu pun kalau dihitung materinya nggak ada selembar pun. Hah, terus kami belajar apa?

            Untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi, kami sepakat belajar buku tentang grammar dan TOEFL. Plus saling tukeran soal-soal yang dibuat sendiri (tapi nggak terealisasikan). Saat latihan, kami hanya dibimbing beberapa menit aja, kontras dengan debate yang selalu dianakemaskan (maklum pembinanya juga orang debate dan perlombaan yang sering diadain adalah debate juga).

            “Kalian latihan aja bahas grammar atau cari-cari bahan materinya. Panitianya sudah tak hubungi, info materinya ya yang aku omongin tadi,” Mas Choi memberikan tipsnya. Sebenarnya nama aslinya sih bukan Mas Choi, tapi mas Khoirul Anwar. Para senior memanggilnya mas Choi, jadilah kami harus mewarisinya.

            Biar kelihatan Chinesenya gitu…

            Akhirnya hari-hari perlombaan datang juga. Lomba yang bernama English Week ini memperlombakan lima macam lomba tadi. Yang kebagian tanding pertama adalah debate, kemudian News Reading, Speech, Story Telling, dan yang terakhir Quiz Alliance.

            Sayang sekali, delegasi kami di semua cabang perlombaan rontok. Prestasi terbagus hanyalah debate, salah satu tim kami berhasil lolos ke Quarter Final alias perempat final. Ckck, bisa dibayangin pesertanya dari seluruh Jatim dan Bali, semuanya harus berdiskusi tentang opininya masing-masing di tengah membeludaknya peserta di auditorium.

            “Untung nggak ikut debate..”

            Hari Kamis, 11 November 2010 timku berlomba. Bersama Dito dan Ryan kami siap menghadapi segala macam rintangan (termasuk wajah memerah ketika harus tersingkir duluan). Reputasi sekolah kami di level Jawa Timur sebenarnya cukup diperhitungkan, jadi ya agak malulah kalau babak pertama terlempar duluan.

            Memakai baju batik sekolah, izin ke ruang BK dan guru, kemudian langsung weerr..kami berangkat menuju arena perlombaan menggunakan motor (tapi motor suaranya nggak werr gitu). Bersama salah satu senior kami di EC, kami pun harus dibuat bingung. Alamak lewat mana nih UNESA?

            Di UNESA kami pun masih harus menghadapi kebungungan yang membuat jantung terus bergetar karena nervous atau bahasa gaulnya sekarang cenat-cenut. Kami sampai-sampai tersesat di fakultas Bahasa Jepang saking awamnya pengetahuan mengenai UNESA. Untunglah ada mas-mas yang baik hati yang lagi duduk-duduk di pendapa yang mau kasih tahu soal letak lombanya.

            Ya udah sekarang kita langsung ke intinya aja yaa.. Di ruang auditorium perlombaannya dimulai pukul 8 pagi, tapi jarum jam sudah lebih 15 menit. Kemoloran kami ternyata tak mempengaruhi jalannya lomba loh.

            Ya iyalah kita kan cuma peserta.. Kemoloran pun sudah jadi budaya di negara kita…”

            Di technical meeting sebelumnya ada tahapan pengundian. Tim sekolah kami akan berlaga menghadapi dua SMA negeri lainnya, ada yang dari Gresik juga Jember, jadinya lombanya tiga-tiga gitu. Tiap regu ada tiga orang, jadi yang maju di depan ada sembilan anak. Di situ sudah disediain bel, pertanyaannya diberikan panitia secara dialog dan powerpoint. Siapa yang bisa duluan silahkan ditekan belnya.

            “Teet…”

            Kami berempat mengambil duduk yang berjejer di auditorium. Ternyata di sana sudah banyak yang ngumpul juga. Dari ekspresi wajah mereka terlihat cukup kegerahan, bukan karena teriknya matahari, wong ruangannya di ruang ber-AC gitu.
Mereka kegerahan karena panitianya harus molor sampai satu jam, karena yang bertugas membuka acara belum datang.

            Aku sendiri masih harus menahan dinginnya AC, terus menggigil. Ditambah jantung yang bergetar begitu kencangnya, maklum baru pertama kali ikut lomba kayak gini. Mata merem, mulut komat-kamit membaca do’a, dan tangan bersedekap memeluk tas menjadi ekspresiku di pagi itu yang mendung.

            Giliran kami bertanding lamaaa banget. Sekitar jam 11 kurang berapa gitu, barulah waktunya kami tampil. Keringat dingin mengucur deras dari tubuhku ketika dipanggil nama sekolah kami, dan aku harus menahan pandangan para peserta yang masih tersisa dan lolos ke babak selanjutnya.

            “Satu, dua , tiga, hup..”

            Andaikan di situ aku bisa berlari kencang dan berteriak sepuasnya, niscaya jantung dan pikiran ini gak bakalan cenat-cenut lagi. Tapi lagipula siapa yang mau langsung ditandu ke RSJ saat itu juga?

            Keteledoranku tak membawa kacamata ternyata berimbas besar. Aku nggak bisa ngeliat soal-soal yang ada di powerpoint. Untunglah Dito yang jago ngartiin soalnya mau share sedikit ke aku dan Ryan. Untungnya kompetitor kami juga sempat melongo ketika soal diberikan.

            Tanpa kesulitan berarti, akhirnya tim kami berhasil maju ke babak berikutnya dengan skor telak. Kekuatan kami terletak pada soal pengetahuan umum, kalau benar diganjar skor 50. Lumayanlah buat pengganjal nilai, hehe J

            Berhasil lolos ke perempat final, ekspresiku juga tetep sama. Mata merem melek, mulut melantunkan do’a-do’a menjadi ciri khasku. “Gimana ini kalau kita nggak lolos,” tanyaku berulang-ulang kepada tim dan pembinaku. Sampe-sampe mereka bosen dan cekikikan ngeliat ekspresi wajahku yang harap-harap cemas.

            Perempat final, formatnya dua-dua, dan lawan kami berasal dari Sampang. Dari babak sebelumnya kami berpendapat mereka jago dalam grammar. Mereka berhasil menyisihkan peserta lain dengan jawaban yang cepat nan tepat. Alhasil keputus asaan ini terus membumbung, takut kalau harus tersingkir duluan.

            Perlahan tapi pasti, pengetahuan umum kembali menyelamatkan kami juga. Mereka memang jago dalam grammar yang rata-rata poinnya 30, tapi kami berhasil juga kawan, menjawab soal-soal general knowledge. Di akhir laga kami bersalaman, ku mengira merekalah yang menang. “Kita yang menang,” kata Dito. Hah, kok bisa? Ternyata aku baru sadar perolehan kami tipiiss banget… Skor 200-195 untuk kita!

            Semifinal melawan anak Madura lainnya, SMA dari Pamekasan pun kami lalui dengan mudah. Semangat itu akhirnya membara dalam diriku, berhasil melaju ke final berarti sudah menggenggam satu tempat untuk mendapat trofi yang dari tadi mejeng di depan. “Semangat semangat!”

            Di final, kami berhadapan dengan anak Mojokerto dan Pamekasan (lagi-lagi yah). Beradu cepat dengan mereka ternyata sulit sekali kawan. Saat panitia belum selesai membacakan soalnya, mereka sudah memencet belnya duluan. Hiks…

            Walau tak menarget juara satu, tapi aku optimistis meraihnya. Tak ada hal yang tak mungkin kan di perlombaan ini. Tapi ya sudahlah, kami harus puas dengan rangking dua, mengingat performa anak Mojokerto dalam menjawab soal-soalnya, baik grammar maupun pengetahuan umum.

            “Yeah, yeah, yeah!” sorakku. Kulihat saat prosesi penyerahan trofi sang jawara ada yang melakukan sujud syukur atas kemenangan mereka. Yah, akhirnya perjalanan melelahkan timku berbuah manis. Meski di cabang lain kami gagal, setidaknya secara keseluruhan kami masih lebih baik dari kompetitor utama sekolahku, SMA dari pusat kota Sidoarjo.

            Perjalanan kami usai sudah. Dewi Fortuna ternyata menaungi timku, kendati persiapan kami minimalis banget. Di akhir perjalanan kami berempat, timku dan senior yang mendampingi masih aja ketawa cekikikan heran dengan tingkah lakuku yang dari tadi super duper aneh.

            “Kamu yang artiin soalnya yah..” kata Ryan kepada Dito.

            “Oh ya, kamu yang jawab pertanyaan grammarnya,” balas Dito.

            “Hahaha, mereka pasti lagi-lagi menggodaku,” gumamku. Pemandangan sunset di ufuk timur di sepanjang perjalanan pulang turut menambah keceriaanku, belum pernah aku menyaksikan pemandangan matahari terbenam seperti layaknya di pantai Kuta ini.

            “Ah seandainya hadiahnya jalan-jalan ke Bali gimana yah..” :)


      2nd Winner Quiz Alliance SMANIKA
     Dari kiri : (Ryan, Deeto, mbak Nita, Iman)

Tes Masuk SMA tercinta

Kali ini aku mau sharing pengalaman soal masuk di SMAN 1 Krian Sidoarjo, sebuah sekolah RSBI terletak di pinggiran kabupaten Sidoarjo . .

Kalo kalian berkunjung ke sana pasti bakal terkagum-kagum sama tamannya :D #promosi
Sekedar intro, sekolah ini diresmikan tahun 7 September 1981 dan diresmikan oleh Bpk Gub. Priyosudarmo, gubernur Jawa Timur waktu itu.
Ok lanjuutt . .


Saat melihat pengumuman SMA pertama kali di mading SMP . .
Waktu itu bulan Mei 2010, beberapa hari setelah sekolahku SMPN 1 Taman Sidoarjo ngadain rekreasi perpisahan di Bali. Iseng aja pas jalan-jalan di depan ruang guru, ada papan pengumuman yg di sananya ditempelin berbagai pengumuman, salah satunya ttg pengumuman masuk SMA RSBI di Sidoarjo. Kebetulan ada 2 SMA di situ, SMAN 1 Sidoarjo sama SMAN 1 Krian . .
Bingung, beberapa lama dibikin mikir juga, enaknya pilih yang mana yaa . . :v

Di rumah, langsung dateng ke mama buat konsultasi, ya udah katanya beliau coba disurvey aja dulu, jadilah aku sama salah satu saudaraku ngunjungin 2 SMA favorit itu #wuusss

Akhirnya setelah beberapa lama setelah itu, aku mutusin ikut tes di SMANIKA aja, secara jaraknya lebih deket plus sama-sama RSBI juga, jadilah waktu itu sekitar minggu kedua bulan Mei sepulang sekolah mama langsung ngajakin daftar ke sana . .

Jaraknya yg lumayan jauh juga bikin sedikit tegang, maklum kalo boleh bilang aku anak rumahan #curhat
Di sana, ada puluhan anak-anak SMP bareng ortunya udah pada registrasi, well di sana udah ada beberapa guru yg udah stand by. Oh ya utk masuk di sekolah RSBI itu salah satu persyaratan utamanya nilai rata-rata raport SMP untuk pelajaran yang di-UNASkan min. 75, sebelum daftar ke sana di ruang guru SMP sama walikelas tercinta yg udah jadi pendamping dari kelas 7-9 Bu Tri Ribawati guru Geografi yang super duper baik dibimbing buat ngitung nilai total di rapot. Setelah pas memenuhi syarat jadi yakin bakal bisa diterima (ada sih nilai bahasa Indo dapet 74 pas kelas 7, gurunya GALAK + JUTEK -,- )


Sehari sebelum tes dimulai . .
Hari minggu 23 Mei 2010, waktu itu aku bareng beberapa saudara ngerayain ultahnya salah satu saudara kami yg kedua di McD di salah satu mall Surabaya. Ketika itu banyak tamu undangan, termasuk juga Chinese yang dari pihak papanya dateng juga (rasanya agak aneh sih berinteraksi dengan bareng mereka, bahkan sampe sekarang).

Beberapa jam keasyikan di sana akhirnya saat galau tentang soal tes pun datang juga  :p pulang malemnya baca-baca buku materi di saat-saat terakhir sebelum tes . .
Ya Allah kabulkanlah impian hamba . .


Hari Pertama
Dag dig dug nunggu hari-H akhirnya tiba juga. Dengan semangat dan optimisme tinggi aku pun berangkat ke SMANIKA buat tes tertulisnya. Sampai di sana, sempet bingung juga cari tempatnya. "DIMANA INI??" #lebay

By The Way, saking luasnya SMANIKA sampai akhirnya kesasar ke ruang guru, hufftt . . Tapi untungnya nggak jauh dari situlah ruang  kelas tesku terletak. Duduk manis, baca buku, nggak peduli lingkungan sekitar ---> ciri khas anak cupu . Kira-kira setengah jam kemudian tes berlangsung tegang dan mendebarkan , soalnya cukup "mudah" dan "santai" (untuk ukuran anak SMA). Sehabis tes cobain jalan-jalan di sekitar tamannya, bagus juga euy meskipun gak sebagus sekarang, lumayan buat refreshing :D


Hari Kedua
Di hari berikutnya, para calon siswa berhadapan dengan psikotes. Tesnya itu meliputi seperti tes kecermatan, hitung cepat, dan daya ingat tentang bangun ruang dengan diberi batasan waktu tertentu dan diselenggarakan SMANIKA bekerjasama dengan lembaga Psikologi UNAIR. Kira-kira kebayang nggak seberapa sulit tesnya?
A : "Tesnya sulit eaa" (pasang muka bete)
B : "Halah gampang kok, dikerjain sambil merem juga bisa :D " #pasrah
C : "Tenang tenang, semua bisa dikabulkan dengan kantong ajaib"  --> gak nyambung

Kuncinya, harus tanggap dan cermat melihat soalnya. Karena diberi durasi kita nggak akan bisa lirik kanan kiri, jadi hasilnya bakalan mendekati murni 100% *bahagia*


Hari Ketiga
Tes ketiga ini adalah tes interview conversation English. Personally we were interviewed face to face with the English teacher one by one (sok inggris). Kebetulan aku kebagian hari pertama, nunggunya lebih lama waktu itu membuat sedikit perbedaan. Ada yang duduk sambil baca buku dialog English, ada yang mainan HP, etc. Terlalu biasa? Ini lho perbedaannya --> soft skill kita terasah. Waktu itu aku berkenalan dengan beberapa temen yang di kemudian hari bakalan jadi temen sesekolah. Masih inget waktu itu kenalan sambil ngomong bareng sama Khoirul Dimas (sekarang anak IPA 6 eks X-5) sama Hyang Iman Kinasih (anak IPA 7 eks X-3) dan sama-sama diinterview oleh Mom Suciasri, guru kelas 12 :* . Lumayanlah bisa mengurangi stress sekaligus menjalin silaturahmi sesama calon murid :) .

Tesnya waktu itu diwawancarai tentang kehidupan kita sehari-hari, motif mengapa kita ingin bersekolah di situ, dll. Dibutuhkan keterampilan berbicara yang bagus, mental yang terasah, serta do'a for passing this kind of test.


Tesnya udah selesai, terus ngapain? Tawakkal, tetap optimis bisa diterima. 
Lanjut ke part terakhir - Menjelang Pengumuman


Sabtu, 5 Januari 2010 . .
Bangun --> bersih-bersih --> persiapan lihat pengumuman
Waktu itu sekitar jam 11-an bareng saudaraku kita bersiap ke sekolah buat lihat pengumuman.
Dan ternyata . .

"Nanti pengumumannya langsung diumumkan jam 12.00 di web resminya langsung," kata pak satpamnya.
Eng ing eng . . Cegek luar biasa, bisa dibayangkan saudara-saudara :D
yaudah kita pulang, di rumah langsung ubek-ubek laptop, sialnya karena waktu itu pulsa modem habis, jadilah tak ada modem telepon rumah pun jadi, dan internetnya pun super duper lemot, jadilah sekitar setengah satu bisa loading sepenuhnya di halaman resminya . .
Hasilnya?

Alhamdulillahirobbilalamin Ya Allah terimakasih atas rahmat-Mu ini . .  Tanggal ini menjadi momen bersejarah bagiku. Dengan nilai cukup tinggi sekitar 91 koma berhasil menduduki peringkat 8 dari 288 siswa. Kebayang betapa bahagianya saat itu, sujud syukur sambil meluk mama . .
Kata saudaraku itu yang nilainya di atas 90 bener-bener kualitas RSBI #aamiin .
Sempet pula sama kerabat yang tinggal deket rumah dihadiahi minuman ringan berupa susu murni pasteurisasi yang biasa dijual keliling, lumayanlah bisa menyegarkan dahaga semangat belajar di jenjang sekolah yang lebih tinggi #hiperbolis .

Insya Allah di sekolah baru ini dapat mendukung cita-cita ke depannya, meskipun mulai saat itu jarak sekitar 25 km pulang pergi harus ditempuh tiap hari. Berbekal semangat man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh pasti bisa, dengan ini dimulailah sejarah baru dalam kehidupan di masa SMA #ketokpalu .

Welcome to the new world . . :)