Showing posts with label MY THOUGHTS. Show all posts
Showing posts with label MY THOUGHTS. Show all posts

Friday, 6 November 2015

Kisah Kura-Kura vs Kelinci (Inspiration Story)

Alkisah dahulu kala hiduplah seekor kelinci yang cukup sombong. Suatu hari dia bertemu kura-kura dan mengajaknya bertanding lomba lari. Si kura-kura pun menyanggupinya.
Akhirnya tibalah saat hari pertandingan. Si kelinci dengan pedenya berlari secepat yang ia bisa, sambil sesekali menengok ke belakang, mengira kura-kura telah jauh di belakangnya. Mengira dia sudah jauh dari lawannya si kelinci memutuskan untuk istirahat sejenak. 
Tak dikiranya kura-kura bakal memenangkan pertandingan lari ini, padahal kecepatan si kura-kura jauh lebih lamban dari si kelinci.




Si kelinci yang kesal karena dikalahkan, menantang kembali si kura-kura untuk lomba yang sama. Kali ini kelinci berjanji dia tak akan lengah. Dewan juri pun mengabulkan permintaan kelinci. Di lomba kedua ini akhirnya kelinci berhasil mengalahkan kura-kura dengan kecepatannya.




Si kura-kura protes kepada dewan juri, meminta lomba digelar kembali, dengan catatan si kura-kura yang menentukan rutenya. Rute yang dipilih yaitu yang mempunyai sungai yang cukup lebar dan lumayan dalam. Dewan juri dan kelinci pun menyanggupi. Di hari pertandingan kelinci kebingungan mencari cara yang tepat untuk menyeberangi sungai. Dan si kura-kuralah yang pandai berenang yang memenangi pertandingan ini.



Cerita yang bisa dipetik dari cerita ini,
hikmah cerita paragraf pertama :
Orang yang suka menunda pekerjaan dan tidak fokus akan dikalahkan oleh orang yang fokus sekalipun lebih lemah.

hikmah cerita paragraf kedua :
Orang yang bekerja keras dan fokus akan lebih unggul dari orang yang berkemampuan lebih rendah

hikmah cerita paragraf ketiga :
Orang yang mengetahui potensi dirinya lebih unggul ketimbang oang yang bekerja lebih keras


Lain lagi ceritanya bila kelinci dan kura-kura bersama-sama bekerja sama. Ketika di darat kelinci menggendong kura-kura, saat di sungai kura-kura membawa kelinci sampai di seberang. Waktu yang ditempuh pun jauh lebih singkat. Hikmahnya, orang yang mengetahui potensinya akan dikalahkan oleh orang-orang yang bekerja sama :)


Terima kasih sudah membaca postingan bertema inspirasi kali ini, see you next time! ^^


credit : mas Adri Suyanto, terima kasih buat ceritanya

Saturday, 10 October 2015

Kumpulan Quote Kehidupan dari Orang Sekitar

Hai hai ! :D
Kalian tentu pernah tau kan, akun-akun entah FB, twitter, Instagram, dll yang sukanya posting soal quote kehidupan sehari-hari?
Nahh kali ini aku juga mau posting nih, bedanya quote ini berasal dari orang-orang sekitar, mulai dari zaman SD sampai kuliah. Hampir semua bilang secara langsung quote mereka. Yahh mumpung masih ingetlah, sapa tau bermanfaat dan menginspirasi :p :)
Walaupun ada yang berkesan mainstream, tapi isinya bener" menggugah lo. Ada juga yang nyeleneh abis, kekeke.

Ok, kita langsung aja ya, check it out!


"Walaupun kamu punya kekurangan fisik yang mereka ga punya, buktikan le kalo kamu bisa lebih dari mereka di hal lain seperti akademik.."
(Bu Jum, guru SD)

"Jangan mencubit kalo ga mau dicubit"
(Sindy, temen SD)

"Hidup itu ditentukan juga sama nasib, kita ga pernah tau apa yang akan terjadi kemudian"
(Bu Tri Ribawati, guru geografi SMP)

"Yakinlah, bahwa Allah takkan pernah menyia-nyiakan segala usahamu. Bersabarlah, hingga kelak ketika sabarmu telah habis masanya. Perbaruilah terus ia dengan sebuah KEYAKINAN, bahwa Allah takkan pernah membuatmu kecewa.."
(Syahril, temen SMP)

"Olahraga o rek, jangan FBan aja!"
(Hasim, temen SMA)

"Dicoba dulu, berusaha dulu, nanti pasti bisa"
(Sances, temen SMA & kuliah)

"Selama istri yang sebelum meninggal mengizinkan kawin lagi, kawin aja"
(Pak Imam, guru matematika SMA)

"Selama janur kuning belum melengkung, kamu masih punya kesempatan!"
(Pak Sholeh, guru biologi SMA)

"Sebenernya mereka salah kalo mereka bilang kamu nggak bisa mencapai mimpimu, aku yakin dengan usaha sama ibadah kamu bisa keterima di sana.."
(Adam, temen SMA)

"Kalo orang lain aja bisa, tentu saya juga bisa"
(dr.Sri, wakil dekan di kampus)

"Kunci sukses itu ada dua. Yang pertama, belajar sungguh-sungguh, sekuat tenaga, sepenuh hati, sepenuh akal budi. Yang kedua, jadilah orang yang jujur."
(dr.Sareh, mantan dekan & dosen di kampus)

"Jadilah mahasiswa yang bisa mengatur waktu antara kuliah & organisasi. Kalo kuliah langsung pulang ga ikut organisasi kita akan kesulitan terjun ke masyarakat nantinya."
(dr.Prayogo, dosen di kampus)

"Nilai jelek selama pre-klinis ga masalah, yang penting pas koass kita bener-bener bisa"
(Toriq, temen kuliah)

"Merantaulah... Maka kau akan tahu seperti apa rindu terhadap orang tua, keluarga, kawan lama dan kampung halaman."
(Fahmi S, temen kuliah)

"Kalo ada temen yang kelihatan "jelek", jangan dijauhin. Tetep jadi temennya, siapa tahu dia bisa berubah"
(Yoefan, temen kuliah)

"Keberuntungan kita yang menentukan"
(Kak Vicky, kakak kelas kuliah)

"Bullshit namanya kalo kita bercita-cita mengubah keadaan sekitar, tapi mengubah diri sendiri aja belum bisa"
(Kang Poundra, Sekjen ISMKI, FK Unpad 2009)

"Hasil akan lebih cenderung datang kepada orang yang berkorban lebih banyak"
(dr. Gamal Albinsaid, founder Indonesia Medika)

"Udah semester lima biasanya mahasiswa sudah lebih menghayati perannya di kuliah. Belajar lebih rajin, nggak pake sistem SKS lagi"
(dr. Doni, dosen Faal di kampus)


Yup sekian dulu ya.. Sementara segini dulu, nanti kalo ada yang inget atau ada yang baru nanti bakal update lagi :) Thanks for reading guys, see you in next post, peace out!

Friday, 14 August 2015

The Story : 2012, My Revival Year (Part 1)

Bismillahirrahmanirrahim


Ini adalah ceritaku tahun lalu dimana salah satu tahun yg benar-benar melelahkan dan penuh perjuangan, 2012.

Sebelumnya aku mau cerita dulu bagaimana awal dari kebangkitan di masa SMA, transisi dari pelajar malas menjadi pelajar yang lebih disiplin :))

3 bulan terakhir 2011..

Seperti kehilangan semangat. Loyo. Malas belajar. Tiga hal itu cukup untuk menggambarkan aku saat itu. Belajar hanya sesekali, waktu lebih banyak terbuang untuk bermain games, internetan, galau masalah anak muda, dll. Jadi ingat dulu November malam-malam selalu begadang hanya untuk bermain GTA di kompi.. #janganditiru

Dan akhirnya..

Suatu pagi di sekolah, hari itu merupakan hari pembagian rapot. Temen-temen udah pada kumpul di gazebo sekolah. Kami berbincang biasa, ada juga yg membantu wali kelas, mengoordinir ortu murid yang datang. Saat itu kelas kami sedang diperbaiki, sehingga tempat berpindah ke MultiMedia. Prediksiku, salah satu diantara kami yg telah dua kali juara kelas di kelas X nya yg akan menjadi pemenang.
Anak-anak kembali ke MM. Deg-degan.

"Gimana-gimana?"
"Eh hasilnya ya apa?"
"Kamu juara berapa?"

Akhirnya salah satu teman keluar, membawa secarik kertas yang kemudian kuketahui berisi daftar top 10 di kelas. Kami sekelas berebutan melihat, mencari tahu siapa saja yang hasil kerja kerasnya terbayar hari itu.

Satu persatu kulihat nama itu. Dan..

Gagal.

Kulihat satu persatu teman-teman beserta ortu mereka pulang. Ada yang bersuka cita, ada pula yang muram.
Prediksi awalku benar. Namun daftar itu.. benar-benar menyesakkan. Dulu di kelas X aku selalu mendapat posisi 10 besar. Tapi apa yang kini terjadi?

Failed. Kata-kata itu sudah sering kudapati saat bermain games, media, dll. Namun saat itu rasanya BEDA. Iya, beda.

Saat pulang, di mobil aku hanya terdiam saat mama melontarkan kata-kata pedasnya. "Makanya jangan bermain terus, kamu itu pelajar. Nggak seharusnya kamu bermain terus, begadang, lupa waktu.."
Air mata itu tak mampu kubendung, kulihat daftar nilai di rapot satu persatu. Tak seberapa bagus memang.
Seandainya aku punya waktu untuk berubah, kegagalan ini.. Ah, pedih rasanya.

Sesampainya di rumah, tak kuasa aku menahan kesedihan itu. Air mata terus mengalir mengenang semua yang telah kulakukan selama satu semester. Jika saja aku tahu akan seperti ini rasanya. Penyesalan selalu datang terlambat.

Bersama dengan salah satu teman akrabku yang gagal meraih peringkat atas, setidaknya dia masih jauh lebih baik secara peringkat, kami saling menguatkan satu sama lain lewat SMS. Meratapi kegagalan kami hari itu. Sejak saat itu, aku sadar akan semua kesalahanku, dan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama sekaligus membuktikan kemampuan diri sebenarnya.

Babak baru dimulai.

Akhir 2011, aku memutuskan untuk mengikuti ekstra Pramuka secara rutin. Saat itu ada uji kemampuan Bantara, semacam tingkatan untuk Pramuka tingkat Penegak (SMA). Aku mencoba ikut, menyisihkan sebagian dari waktu untuk mengasah hard skill & soft skill bersama teman-teman seekstra. Dan waktu itu aku masuk di grup Pendobrak :D Setelah melalui perjalanan panjang dengan berjalan kaki sepanjang 15-an km dan menuntaskan poin-poin tes dan acara akhirnya kami resmi dilantik menjadi anggota Bantara Pramuka Penegak tepat di hari terakhir 2011 :)

Pulang sehabis tes :)


Januari 2012

Setelah buku-buku pelajaran didapatkan, aku mencoba mengubah pola belajar. Setelah pulang sekolah, sore, me-review materi yang diberikan guru sebelumnya. Malamnya, mempelajari materi yang akan dibahas besoknya. Aku masih ingat, saat itu sedang bangkit-bangkitnya semangat buat belajar matematika, bab suku banyak. Mencoba mencari jawaban dengan cara Horner, konvensional, dll. Bahkan sampai membeli buku soal matematika karena kekurangan soal. Setiap hari aku berusaha keras belajar, memahami isinya, tidur tepat waktu. Aku tak mau seperti keledai, jatuh di lubang yang sama.

Sedikit-demi sedikit usaha membuahkan hasil. Nilai UH matematika dua bab, suku banyak serta fungsi komposisi & invers berhasil kutuntaskan dengan nilai sempurna. Di PKN, yang gurunya terkenal dengan cara mengajarnya yang khas, aku mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari beliau. Namun masih ada yang lebih bagus dari prestasi di sekolah : Olimpiade.



Let's Begin the Adventure : Olimpiade Sains 2012

Saat itu bulan Maret minggu kedua. Saat itu, Jum'at pagi seperti biasa pelajaran PKN sedang berlangsung. Sekitar jam setengah delapan, aku pamit untuk mengikuti seleksi tingkat sekolah mewakili SMAN 1 Krian di tingkat kabupaten di bidang Biologi. Beberapa hari sebelumnya, bermodalkan semangat, pengalaman, dan modal buku-buku aku mencoba mengikuti seleksi lagi setelah tahun 2011 gagal. Dan alhamdulillah, masuk 5 besar, yang nantinya diseleksi menjadi 3 orang, untuk mengikuti Olimpiade Sains tingkat kabupaten nantinya.

Waktu hanya ada dua minggu, dalam waktu sesingkat itu aku harus mempelajari keseluruhan materi biologi yang diujikan, yang sebagian besar merupakan materi kelas 12 dan kuliah *_^ Dengan metode seperti biasanya di 2012 + belajar dadakan di bus saat pulang, jadwal kuatur dan materi kupersiapkan sebaik-baiknya.

Hari-H. Tak ada perasaan apapun sebelum lomba ini berlangsung. Seperti biasa, saat sebelum ujian dimulai, aku berdoa seperti biasa. Pesaing kali ini mencapai 75 anak mewakili SMA-SMA nya masing-masing se-kabupaten. Banyak banget..


Satu bulan kemudian..

Awal Mei 2012. Saat pelajaran Seni Budaya, guruku mengatakan beliau ikut melihat hasilnya. Ada dua anak dari sekolah kami yang masuk peringkat teratas. Tiba-tiba jantung deg-degan gak karuan. Esoknya..
"Selamat, Man! Kamu masuk peringkat 2 se-Sidoarjo!" kata guru Fisika ku. Peringkat 1 diraih oleh Hanum, teman satu sekolahku.

Alhamdulillahirabbilalamin. Akhirnya kerja keras itu terbayar juga.

Jadilah aku harus membagi waktuku kembali antara belajar untuk materi UAS dan Olimpiade. Kali ini perhatianku benar-benar terpecah, selain soal lebih sulit, waktu masih kurang mencukupi untuk memahami semua materi. Sampai-sampai sempat berselisih dengan teman sekelompok Biologi untuk bab Reproduksi karena aku dikira terlalu fokus belajar untuk persiapan seleksi provinsi..

Di tingkat provinsi ini aku berkenalan dengan banyak teman-teman se-kabupaten, dan sampai sekarang masih berhubungan lewat sosmed. Ada Kharis (kimia) dari SMAN 1 Sidoarjo, Hardiyanto (kimia), Silvia (fisika), Marthen (biologi), ketiganya dari SMA Kr. Petra 4. Cecil (matematika) dari SMA PGRI 1, Meylin (matematika) dari SMA Untung Suropati. Mereka baik serta cerdas tentunya. Malam sebelum tes di hotel, kami banyak bercerita, melepas kejenuhan belajar. Satu orang yang tak pernah kulupakan adalah Pak Aunurohim, pembimbing dari ITS jurusan Biologi yang membimbing Hanum, aku, dan Marthen. Petuah dan ilmu beliau benar-benar masih teringat sampai sekarang :)

sehabis tes dan bersiap pulang
berdiri, dari kiri : Meylin, Cecil, Silvia.
duduk, dari kiri : Marthen, Hardi, aku.

saat pemberian piala dan sertifikat di pendopo Dinas Pendidikan



Juli 2012

Menjelang kenaikan kelas 12, aku mencoba mengikuti beberapa lomba. Diantaranya lomba LCC Bela Negara yang diadakan Kodim Sidoarjo dan lomba Pramuka se-Kwarcab Sidoarjo di bidang mading 2D. Dan lagi-lagi, alhamdulillah, masing-masing berhasil menyabet peringkat 1 dan 3. Namun, akhirnya aku harus menemukan kenyataan pahit : gagal masuk tingkat Nasional yang akan diadakan di Jakarta September 2012~ Sedih? Iya. Bangga? Iya. Mau gimana pun juga ini pencapaian yang cukup luar biasa bagi seorang anak yang hampir pernah keluar peringkat 50% terbaik..


(to be continued) ..


Friday, 12 June 2015

Persamaan Pramuka dengan Dunia Kedokteran

Hi guys!
Kali ini penulis mau bahas antara persamaan antara dunia Praja Muda Karana aka Pramuka dengan dunia medis khususnya kedokteran. Yap, berhubung dulu pernah ikut pramuka di SMA dan sekarang alhamdulillah harus bertarung di dunia kuliah yang keras & stress tak terbayangkan sebelumnya, ternyata ada lho beberapa hal positif mengenai kedua dunia ini yang sama. Kira-kira apa ya? :o

Yup berikut ulasannya :

Pramuka identik dengan kebersamaan dan kesolidan antaranggotanya
Dokter identik dengan pengabdian kepada masyarakat

Ketika Paskibra belajar baris-berbaris, Pramuka juga belajar baris-berbaris
Ketika pengacara belajar hukum, dokter juga belajar hukum khususnya yang berkaitan dengan hukum medis

Pramuka yang baik umumnya memiliki basic skill dapat bertahan di alam bebas
Dokter yang baik memiliki basic skill dalam menangani pasien

Pramuka punya Tri Satya sebagai janji & Dasa Darma sebagai kode etik
Dokter punya Sumpah Dokter sebagai janji & kode etik nya sendiri di SK PB IDI

Pramuka dan Dokter punya ciri warna
Pramuka identik dengan seragam coklat
Dokter identik dengan jas putih

Pramuka punya Kwarnas (Kwartir Nasional) yang mengelola gerakan Pramuka Nasional
Dokter punya IDI (Ikatan Dokter Indonesia) yang merupakan organisasi profesi dokter se-Nasional

Di Pramuka ada TKK (Tanda Kecakapan Khusus) yang merupakan tanda anggota pramuka telah menguasai skill tertentu
Di Kedokteran ada program spesialisasi yang merupakan keahlian khusus yang dimiliki seorang dokter



Dan entah kenapa, saya jadi merindukan masa-masa Pramuka di SMA dulu, hehe x)
It feels so good...

Kalo ada tambahan, silahkan beri komentar yaa :D
Yang jelas, menurut pendapat saya, pramuka dan dokter ini memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Alangkah beruntungnya Anda yang dulu pernah jadi anak pramuka di masa sekolah dan sekarang telah bergumul dengan dunia medis :)


"The uniform makes for brotherhood, since when universally adopted it covers up all differences of class and country."
(Robert Boden-Powell)

"Wherever the art of medicine is loved, there is also a love of humanity."
(Hippocrates)

Monday, 23 February 2015

Finally...

It's holiday time!!

        Yeah, finally 3rd semester is over, and it's holiday right now (actually i'm too late to say this hihi :D). So many experience i've gain for 1,5 years being in FK UHT, start from the knowledge, the event, and i've got many good friends here.

        Somebody said medical faculty life is hard, and it is true. If your main destination to be a good doctor, then you have no choice but to study everyday, read slides, and get proper sleep. I've already experience this, and it's totally different from Senior High School life TT. When still in SHS life you still can study, play, etc without something going to rush you (except when exams come :p), then here you have to create a deadline when you will finish read your slides before. For some people, it may hard to concentrate well when your mind are rushed off (including me, i didn't so well in Endocrine exams recently TT). Here you may doing your hobby, especially playing games, but not too much. I've realized i'm addicted to Minecraft games, and got bad score in Endocrine (so ironic).

        But, like Mr. Dahlan Iskan said, "Habiskan jatah gagalmu ketika kamu masih muda", i'm gonna try again to get back in the right track. I've learned how to divide times into some important activities, this including study, organization, sleep, family, etc (thanks to my friend Yoefan for the advice :)). For me, success is also mean you can revive from failure into next success.

        Okay, let's begin our journey into 4th semester! Take a breath and cheer up ;)

Thursday, 25 July 2013

Bersyukur

Bismillahirrahmanirrahim


Alhamdulillahirabbilalamin

Bersyukur udah dapet kuliah di jurusan impian tahun ini
Sedangkan banyak juga yang gagal dan berjuang lagi tahun depan

Bersyukur akhirnya bisa mewujudkan impian masa kecil
Sedangkan hanya 5-10% yang bisa merealisasikannya

Bersyukur usaha akhirnya membuahkan hasil
Sedangkan yang lain ada yang masih harus berjuang

Bersyukur orang tua masih bisa membiayai kuliah
Sedangkan masih banyak di luar sana kesulitan untuk mencari makan

Bersyukur akhirnya hasil itu akhirnya datang di waktu yang tepat
Sedangkan ada yang harus menunggu berhari-hari bahkan bertahun-tahun

Bersyukur akhirnya mendapat pencerahan filosofi hidup
Sedangkan di luar masih banyak orang butuh motivasi dan bimbingan

Bersyukur masih diberi rahmat berupa kesehatan, kecerdasan, dll
Sedangkan masih tak terhitung jumlahnya orang yang tak seberuntung kita

Bersyukur tempat kuliah masih tak jauh dari keluarga
Sedangkan mereka harus mengembara menuntut ilmu jauh di seberang

Bersyukur, apapun itu pemberian-Nya..
Tugas kita hanya berikhtiar dan berdoa, sedang Dia-lah yang menentukan hasilnya
Bersyukur ketika kata "Selamat" itu muncul, bersabar tatkala kata "Maaf" yang keluar
Karena :
ÙˆَعَسَÙ‰ Ø£َÙ†ْ تَÙƒْرَÙ‡ُوا Ø´َÙŠْئًا ÙˆَÙ‡ُÙˆَ Ø®َÙŠْرٌ Ù„َÙƒُÙ…ْ ÙˆَعَسَÙ‰ Ø£َÙ†ْ تُØ­ِبُّوا Ø´َÙŠْئًا ÙˆَÙ‡ُÙˆَ Ø´َرٌّ Ù„َÙƒُÙ…ْ Ùˆَاللهُ ÙŠَعْÙ„َÙ…ُ ÙˆَØ£َÙ†ْتُÙ…ْ لاَ تَعْÙ„َÙ…ُونَ
 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)


Dan kini..
Saatnya meneruskan perjuangan itu, menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama dengan ilmu yang dimiliki
Membuktikan bahwa kita juga bisa lebih baik dari mereka yang berkesempatan kuliah negeri
Tetap semangat dan optimis menyongsong masa depan :)

"From FK 2013 with Passion, Spirit, and Optimism"


Iman Adhar Perkasa

Sunday, 17 March 2013

Notes About Doctor : Don't Forget The Others (COPAS)


spesial untuk kalian terutama para calon dokter

Riri, aku saat ini sedang kuliah semester akhir di sebuah universitas  negeri. Aku kuliah disebuah jurusan yang cukup favorit, yaitu jurusan  Kedokteran. Sebuah jurusan – yang aku yakini – dapat membuat hidupku lebih baik di masa mendatang.
 Bukan kehidupan yang hanya untukku, tetapi juga buat keluargaku yang telah susah payah mengumpulkan uang agar aku dapat meneruskan dan meluluskan kuliahku. Kakakku juga rela untuk tidak menikah tahun ini, karena ia harus menyisihkan sebagian gajinya untuk membiayai tugas akhir dan biaya-biaya laboratoriumku yang cukup tinggi.
  Hari ini adalah hari ujian semesteranku. Mata kuliah ini diampu oleh dosen yang cukup unik, dia ingin memberikanpertanyaan-pertanyaan ujian secara lisan. “Agar aku bisa dekat dengan mahasiswa.” katanya beberapa waktu lalu.
Satu per satu pertanyaan pun dia  lontarkan, kami para mahasiswa berusaha menjawab pertanyaan itu semampu  mungkin dalam kertas ujian kami. Ketakutanku terjawab hari ini, 9 pertanyaan yang dilontarkannya lumayan mudah untuk dijawab. Jawaban demi jawaban pun dengan lancar aku tulis di lembar jawabku.
 Tinggal pertanyaan ke-10. “Ini pertanyaan terakhir.” kata dosen itu.
“Coba tuliskan nama ibu tua yang setia membersihkan ruangan ini, bahkan seluruh ruangan di gedung Jurusan ini !” katanya.
  Seluruh ruangan pun tersenyum. Mungkin mereka menyangka ini hanya gurauan, jelas pertanyaan ini tidak ada  hubungannya dengan mata kuliah yang sedang diujikan kali ini.

  “Ini serius !” lanjut Pak Dosen yang sudah agak tua itu dengan tegas. “Kalau tidak tahu mending dikosongkan aja, jangan suka mengarang nama orang Aku tahu ibu tua itu, dia mungkin juga satu-satunya cleaning service di gedung jurusan kedokteran ini. Aku tahu dia, orangnya agak pendek, rambut putih yang selalu digelung, dan ia selalu ramah serta amat sopan dengan mahasiswa-mahasiswa di sini. Ia  selalu menundukkan kepalanya saat melewati kerumunan mahasiswa yang sedang nongkrong. Tapi satu hal yang membuatku konyol.. aku tidak tahu namanya ! dan dengan terpaksa aku memberi jawaban  ‘kosong’ pada pertanyaan ke-10 ini.
 Ujian pun berakhir, satu per satu lembar jawaban pun dikumpulkan ke tangan dosen itu. Sambil menyodorkan kertas jawaban, aku memberanikan bertanya kepadanya kenapa ia memberi ‘pertanyaan aneh’ itu, serta seberapa pentingkah pertanyaan itu dalam ujian kali ini.
“Justru ini adalah pertanyaan terpenting  dalam ujian kali ini” katanya. Beberapa mahasiswa pun ikut  memperhatikan ketika dosen itu berbicara.
  “Pertanyaan ini memiliki bobot tertinggi dari pada 9 pertanyaan yang lainnya, jika anda tidak mampu menjawabnya, sudah pasti nilai anda hanya C atau D !”
Semua berdecak, aku bertanya kepadanya lagi, “Kenapa Pak ?”
Kata dosen itu sambil tersenyum, “Hanya yang peduli pada orang-orang sekitarnya saja yang pantas jadi dokter.”
Ia lalu pergi membawa tumpukan kertas-kertas jawaban ujian itu



Jangan sombong ya

Membaca sebuah artikel di kompasiana sore ini sebelum buka puasa, saya tersentak. Cerita seorang pengunjung rumah sakit di Jogja melaporkan betapa buruknya perilaku para calon dokter muda di rumah sakit itu. Judulnya sangat provokatif, ” Para Calon Dokter Itu Sombong Sekali” (Bisa dibaca disini). Kata sang penulis mereka cuma lalu lalang seperti tak punya kerjaan, dengan sikap jumawa sambil asyik memainkan gadget-gadget canggih mereka, tidak perduli dengan keadaan pasien disekitarannya. Membacanya saya merasa harus mengurut dada dengan lemas. Apa yang saya bayangkan adalah sekumpulan orang yang bangga dengan jas putih nya, mondar-mandir seperti barongsai. Sambil jemarinya sibuk memencet-mencet smartphone, blackberry dan semacamnya. Saya berprasangka baik saja bahwa mereka sedang sibuk membaca literature dari perangkat telekomunikasi canggih itu. Mudah-mudahan tidak sebaliknya malah sibuk berhaha-hihi, twitteran atau fesbukan dihadapan pasien yang mungkin saat itu butuh bantuan dan pertolongan.
Lalu saya teringat seorang dokter Belanda yang kebetulan selama 6 bulan pernah berinteraksi bersama saya di Sumba. Kini ia telah kembali ke negerinya. Seorang dokter perempuan yang menyenangkan dengan segala sikap keterbukaannya. Kebetulan saat itu ia sedang meneliti “angiogenic factor” yang berperan dalam kejadian malaria. Topik yang jika ia jelaskannya kepada saya, saya merasa harus memasang konsentrasi 200% ditambah kening berkerut berusaha memahami topik menarik itu dengan susah payah. Ia seorang dokter spesialis penyakit dalam, sub spesialis penyakit tropis. Di belanda ia bekerja di salah satu rumah sakit pendidikan sebagai konsultan penyakit tropis.
Kami sering berbincang jika ada waktu di beranda laboratorium saat ia berkunjung, atau sesaat setelah nonton bareng piala dunia beberapa saat yang lalu. Utamanya jika Belanda yang main saat itu. Mungkin seperti kebanyakan orang Belanda, ia sangat terbuka dan selalu ” to the point” menilai sesuatu. Kebetulan juga penelitiannya dilakukan di sebuah rumah sakit di Sumba, walaupun ia tidak melayani pasien karena tak punya izin.

Suatu ketika ia bertanya pada saya. Apa sih yang menjadi motivasi seseorang menjadi dokter di Indonesia? Saya bingung, kok dia menanyakan pertanyaan semacam itu. Mungkin karena saya terdiam agak lama, dia kemudian menceritakan unek-uneknya melihat banyak hal yang mengelisahkan dirumah sakit tempatnya meneliti, terkait prilaku beberapa dokternya. Menurutnya beberapa orang dokter berprilaku sangat mengenaskan. Miskin senyum dan minim perhatian pada pasien. Bahkan beberapa saat sebelumnya ia menemukan seorang pasien yang meninggal dunia disana, keluarganya sangat bersedih namun tak satupun dari dokter itu yang datang memberikan penghiburan. Sama sekali tak punya empati katanya. Di belanda, dia akan menjamin bahwa dokter semacam ini pasti sudah lama dipecat. Waduh, untungnya di tempat itu tak ada alumni UNHAS, tapi tetap saja ia membuat saya linglung dengan segala keterbukaannya itu, seperti dirotan pas di otak kecil.

Apakah orang masuk kedokteran disini cuma karena ingin kaya atau karena status? Tanyanya lagi. Saya lagi-lagi tak berani menjawabnya. Mengatakan tidak seperti itu, takut malah hal itu yang paling banyak memotivasi orang tua memasukkan anaknya bersekolah di kedokteran, walaupun kemampuan sang anak pas-pasan saja dan mereka harus membayar sangat mahal. Pokoknya barusan malam itu saya yang biasanya cerewet tiba-tiba menjadi kalem secara mendadak. Lalu dia membandingkan lagi keadaan disini dengan di negerinya. Katanya profesi dokter disana sungguh suatu profesi yang susah dan penuh resiko. Orang yang betul-betul ingin menjadi dokter adalah mereka yang terpanggil. Punya kecerdasan, dan juga sensitifitas kemanusiaan kepada penderitaan orang lain. Kalau cuma sekedar ingin kaya katanya, di negerinya orang akan memilih menjadi pengacara atau pebisnis saja.

Sungguh malam itu saya cuma bisa termangu. Mencoba mencari pembelaan yang tak juga saya dapatkan. Ingin mengatakan bahwa tak semua dokter semacam itu, namun susahnya kadang-kadang pengalaman buruk yang dialami seseorang, membuat mereka sering menggeneralisir seolah seluruh dokter berperilaku semacam itu. Saya berterima kasih padanya atas keterusterangannya yang membuat saya tertohok dan berkata, kebetulan saya dosen kedokteran. Apa yang anda ceritakan malam ini akan saya sampaikan lagi pada mahasiswa saya, mudah-mudahan mereka suatu saat nanti jika telah menjadi dokter, tidak berprilaku yang sama. Saya me-link artikel yang ditulis di kompasiana itu sesungguhnya berharap dua hal. Pertama, mudah-mudahan ini bisa menjadi pelajaran agar adek-adekku para calon dokter betul-betul sadar bahwa profesi ini adalah sesuatu yang “sacred”. Orang tidak seharusnya bermain-main di dalamnya karenaia terkait dengan sesuatu yang sangat penting, tentang hidup dan mati seseorang. Seseorang yang kita kenal sebagai manusia dalam pemaknaannya yang paling utuh. Dalam profesi ini dibutuhkan tidak hanya kecerdasan dan skill yang mumpuni, namun juga kemampuan untuk membangun empati terhadap pasien dan kesediaan memperlakukan mereka sebagai sungguh-sungguh manusia. Bukan semata orang sakit.

Kadang-kadang saya risih juga dengan banyak update-an status di FB dari kalangan adek-adek mahasiswa kedokteran yang menceritakan pasien-pasiennya secara vulgar atau mengupload foto-foto pasien yang mungkin sedang meringis kesakitan. Bahkan saya pernah geleng-geleng kepala ketika ada yang mengupload foto pada saat melakukan sirkumsisi sambil berpose dengan bangganya, atau beberapa orang lagi saat sedang berada dalam kamar operasi menatap kamera sambil senyam-senyum. Saya tahu persis bahwa para teman sejawat itu paham dan mengerti dengan sesuatu yang kita sebut sebagai “rahasia pasien”. Saya berprasangka baik saja bahwa saat itu mungkin mereka lupa, bahwa ada hal-hal dalam profesi ini yang tidak seharusnya diumbar secara vulgar begitu rupa kepada khalayak.

Kedua, ini merupakan pelajaran berharga bahwa masyarakat kita semakin hari semakin cerdas. Prilaku buruk profesi yang sempat di potret masyarakat akan sangat mudah menyebar seperti wabah saat ini. Tak butuh banyak contoh buruk, cukup satu dua saja dan ketika di “blow up” di media semacam blog, atau jejaring sosial lainnya maka seketika citra profesi kita sebagai mahasiswa kedokteran atau dokter bisa jadi ternodai. Saya percaya, teman-teman koas yang lebih care di rumah sakit yang ditulis dalam artikel diatas tidak kalah banyaknya, tapi beberapa orang yang dianggap berprilaku buruk saja sudah cukup memberikan citra yang sungguh tak sedap.

Adakah yang bisa melawan kekuatan media yang telah bersenyawa dengan kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi hari ini? Apa yang ditulis dan diposting di kompasiana diatas adalah sebuah bukti ampuhnya “citizen journalism”. Bisa jadi hal-hal semacam ini tidak akan pernah ditangkap oleh para wartawan sungguhan, tapi jangan pernah mengabaikan kemampuan warga untuk menjadi jurnalis dan mendisseminasikan berita dengan sangat cepat lewat perangkat telekomunikasi canggih yang sudah begitu mudah diakses hari ini. Akhirnya dari Sumba dengan segala cinta, saya berharap kita bersama bisa menjaga profesi ini. Apa yang diulas artikel itu bukan tentang institusi, tapi lebih sebagai pengingat untuk para mahasiswa kedokteran dimana pun mereka berada. Masyarakat kini melihat dan menilai apa yang kita lakukan. Mungkin baiknya berhati-hati bersikap dan berprilaku di ruang-ruang publik. Semoga di kampus kita tercinta, di rumah sakit yang kita gunakan belajar, tidak akan terjadi hal yang seperti itu. Maaf jika ada salah-salah kata.
Bismillaahirrahmaanirrahiim, semoga selalu teringat :’)


LALU, BUAT APA KITA JADI DOKTER ?

1. Jika Anda ingin menjadi dokter untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang Anda.Mungkin fakultas ekonomi lebih tepat untuk mendidik anda menjadi businessman bergelimang rupiah.Daripada Anda harus mengorbankan pasien dan keluarga Anda sendiri demi mengejar kekayaan.

2. Jika Anda ingin menjadi dokter untuk mendapatkan kedudukan sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silahkan kembali ke Mesir ribuan  tahun yang lalu dan jadilah fir’aun di sana. Daripada Anda di sini harus menjadi
arogan dan merendahkan orang lain di sekitar Anda hanya agar Anda terkesan
paling berharga.

3. Jika Anda ingin menjadi dokter untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik Anda mencari agency selebritis yang akan mengorbitkan Anda sehingga menjadi artis pujaan para wanita/pria, daripada Anda bersembunyi di balik topeng klimis dan jas putih necis,sementara Anda alpa dari makna dokter yang sesungguhnya.Dokter tidak diciptakan untuk itu, kawan.

4. Memilih menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih kebanggaan,bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat.

5. Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian. Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk. Mengabdi  pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi.

6. Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan empati, ketika dengan lembut kita merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria.

7. Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita
tergerak mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma.

8. Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian, saat kita terpaku dalam sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita.

9. Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang
becak menangis di depan kita karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita menepuk bahunya dan berkata, “jangan menangis lagi, pak, Insya Allah saya bantu pembayarannya.”

10. Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang, ketika dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya,”dik, mau diceritain dongeng nggak sama oom dokter?”

11. Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum kita mantap berkata, “maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani saya”.


12. Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan dinginnya malam.

13. Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita. Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan.

Yah, memilih menjadi dokter adalah memilih jalan menuju surga, tempat di
mana dokter sudah tidak lagi perlu ada…

NB :
Ini bukan provokasi untuk menjadi dokter miskin, bukan juga mengatakan bahwa dokter tidak perlu penghormatan atau hal-hal duniawi lainnya. Tulisan ini
hanya sekadar sebuah nasihat untuk diri sendiri dan rekan sejawat semua untuk meluruskan kembali niat kita dalam menjadi seorang dokter. Karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Silakan menjadi kaya, silakan menjadi
terhormat, asal jangan itu yang menjadi tujuan kita. Dokter terlalu rendah
jika diniatkan hanya untuk keuntungan duniawi semata. Mungkin akan sangat
susah untuk menggenggam erat idealisme ini nantinya. Namun saya yakin, jika
ada kemauan yang kuat dan niat yang tepat, idealisme ini akan terbawa sampai
mati. Walaupun harus sendirian dalam memperjuangkannya, walaupun banyak yang mencemooh dan merendahkan. Saya yakin, Tuhan tidak akan pernah salah menilai setiap usaha dan perjuangan hamba-hamba- Nya. Tidak akan pernah.

berdasarkan catatan dari:
Aditya Putra Priyahita,
seorang yang sangat merindukan sebuah reuni anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di surga nanti. Aamiin.